The World Is Too Much With Us

The world is too much with us: late and soon,
Getting and spending, we lay waste our powers:
Little we see in nature that is ours;
We have given our hearts away, a sordid boon!
The sea that bares her bosom to the moon:
The winds that will be howling at all hours,
And are up-gathered now like sleeping flowers;
For this, for every thing, we are out of tune;
It moves us not. – Great God! I’d rather be
A pagan suckled in a creed outworn;
So might I, standing on this pleasant lea,
Have glimpses that would make me less forlorn;
Have sight of Proteus rising from the sea;
Or hear old Triton blow his wreathed horn.

William Wordsworth (1770-1850)

Who Is He?

Who is he?

Spaghetti Panggang Ala Dewi

Siang itu, Dewi sedang ber-eksperimen di dapur untuk membuat Spaghetti Panggang. Sepertinya aku, yang doyan makan, memang datang pada waktu yang tepat. Melihat aku datang, Dewi pun memintaku untuk membantu pekerjaannya, “Hei, pas banget kamu datang. Aku lagi masak nih. Bantu ya.” Aku pun menggodanya, “Oalah, aku baru datang sudah diminta kerja. Bukannya nawarin apa kek. Hahaha…” Aku tertawa. “Jiahh… Ntar ku kasih hadiah deh.”, balasnya. “Hoh…, Hadiah apa?”, tanyaku. “Makan.”, singkatnya. Sontak aku tertawa, “Hahahaha. Itu artinya kamu minta aku cobain masakannya. Jadi tester. Dasar!” Dia pun lalu ikut tertawa. “Jadi mau bantu apa tidak nih?”, lanjutnya kemudian.

Tentu saja aku bersedia membantu. Aku pun segera menghampirinya dan menjawab, “Siap Bu, apa yang harus saya lakukan?” Dewi memintaku untuk memotong tomat, bawang bombay dan paprika dalam bentuk dadu kecil. Sementara kulihat dia sedang meracik bumbu. Dia memasukkan masing-masing seperempat cangkir lada hitam dan bubuk bawang putih ke dalam satu cangkir garam dan mengaduk-aduknya sampai rata. Selesai dengan bumbu itu, Dewi pun mencincang dua siung bawang putih dan daun sup. Dia melakukannya dengan cukup cepat. Sementara aku baru selesai dengan potongan tomat dan masih sibuk dengan bawang bombay dan paprika hijau, Dewi sudah terlihat sedang menyiapkan keju. Dia sudah selesai memarut keju Cheddar dan sekarang sedang memarut keju Mozzarella.

Tak lama kemudian aku pun selesai dengan tugasku tadi. Melihatku selesai, Dewi pun memintaku untuk memanaskan oven sampai 180 derajat Celcius. Kemudian dia memasukkan dua cangkir tomat yang sudah kupotong dadu tadi, dua cangkir saus tomat, satu cangkir air, bawang bombay dan paprika masing-masing setengah cangkir, bawang putih yang sudah dicincang, daun sup cincang secukupnya, bumbu racikan tadi beserta satu setengah sendok teh gula dan dua helai daun salam kecil ke dalam panci. Bahan-bahan ini kemudian dipanaskan dengan api besar lalu setelah cukup panas, api kemudian dikecilkan dan dibiarkan mendidih. Panci pun ditutup selama satu jam.

Sambil menunggu bumbu dalam panci, Dewi pun beralih ke daging sapi. Dia menghancurkan daging sapi seberat lebih kurang 700 gram itu dalam wajan besar. Daging itu dia masak dengan api sedang. Sementara itu, tidak ada lagi yang kukerjakan. Aku hanya mengamatinya saja sambil mengajaknya berbincang. “Tumben tiba-tiba hobi masak ini itu.”, kataku. “Iya nih, lagi belajar. Bentar lagi mau buka rumah makan.”, jawabnya. “Oh ya. Bagus dong. Hebat-hebat.” Aku senang mendengarnya. Beberapa saat kemudian, Dewi pun meniriskan lemak dari daging sapi yang sudah matang itu dan daging sapi itu pun dimasukkan ke dalam panci berisi bumbu tadi. “Nah, sekarang dididihkan kira-kira dua puluh menit lagi.”, jelas Dewi. “Kamu belajar dari mana Wi?”, tanyaku. “Dulu pernah lihat di tv tapi sudah lupa-lupa ingat. Jadi ini coba-coba.”, jawabnya singkat. “Sekarang kita harus masak pasta-nya.”, lanjutnya sambil memasak 250 gram pasta di dalam panci yang lain.

“Tolong ambilkan loyang itu dong.”, katanya kemudian setelah pastanya jadi. Aku pun menyodorkan loyang persegi dengan tinggi sekitar 6 cm yang berada di dekatku. Dewi pun menuangkan daging sapi yang sudah dimasak dengan bumbu tadi ke dalamnya. Kemudian memasukkan pasta diatasnya, menambahkan keju-keju parut tadi, dan kembali menuangkan kuah daging sapinya. Dewi berhasil membuat dua lapisan dengan kuah daging sapi sebagai lapisan atasnya. Loyang ini lalu dimasukkan ke dalam oven untuk dipanggang selama setengah jam. Setelah selesai, Dewi menambahkan keju sisa diatasnya dan memasukkannya kembali ke dalam oven sekitar lima menit sehingga keju tadi meleleh dan berbuih.

“Yay… Spaghetti panggang ala Dewi siap dihidangkan.”, seru Dewi sambil mengeluarkan loyang itu dari oven. Baunya sedap dan sangat menggoda. Aku merasa tidak sabar untuk segera mencicipinya. Dewi pun memotongnya kotak-kotak dan membagikannya untukku. “Wow. Enak. Rasanya mantap!”, seruku segera pada gigitan yang pertama. “Wi, sepertinya punya bakat masak nih.”, pujiku. “Tidak sia-sia aku kemari hari ini. Dapat makan enak. Hahahaha.”, lanjutku sambil tertawa.

2011-10-05,
Stef

The Square Root Three

I fear that I will always be
A lonely number like root three
A three is all that’s good and right
Why must my three keep out of sight
Beneath a vicious square-root sign?
I wish instead I were a nine
For nine could thwart this evil trick
With just some quick arithmetic
I know I’ll never see the sun
As 1.7321
Such is my reality
A sad irrationality

When, hark, just what is this I see?
Another square root of a three
Has quietly come waltzing by
Together now we multiply
To form a number we prefer
Rejoicing as an integer
We break free from our mortal bonds
And with a wave of magic wands
Our square-root signs become unglued
And love for me has been renewed

David Feinberg

Computer’s Commands In Life

Delete yesterday’s troubles
Select today’s joys
Setup tomorrow’s happiness
Store your eternal love
Cancel the world hatred
Paste your wonderful mood
Copy the intoxicating scenery
Print out your best smile
Let every day be your happy day

Anonymous

When I Think of You

I remember all the good times
The laughter, the cries, the sorrow, and the smiles
I remember how it used to be
When I was there for you and you were there for me
I miss the times we once had
When life was good and life was bad
But through all the years
You’ve stood by me when times were tough
You were there to give your help and love
And now today I clearly see
I need you and you need me

Source: bigfatbaby.com

Tidurku

Kembali, sunyi subuh membisu
Membawa derap langkah waktu
Jelas kian terdengar berpacu
Menggema ikuti nyanyian jantungku

Aargh! Aku terbangun lagi…
Saat rembulan masih tinggi
Sedang lelap enggan kembali
Hanya dapat menunggu mentari

Baru seminggu hidupku disana
Dimana waktu bertambah dua
Sungguh tak pernah kuduga
Telah cukup membuatku biasa

Kini waktu tiada bertambah
Namun jam tidurku berubah
Genap empat malam sudah
Bergelut dengan rasa lelah

2011-09-05,
Stef