Mati? Bukan! Hidup.

Bagaimana jadinya kalau bosan hidup? Mati?

Aku hanya meliriknya ketika dia melontarkan ide ini dan tak lama kemudian dia bilang, “Aku berniat untuk itu.

Mendengar ucapannya, aku setengah tak percaya. Dia yang kukenal bukanlah orang yang gampang menyerah atas hidup. Bagaimana mungkin dia berniat untuk mati? Tapi mimik wajahnya serius sehingga membuatku cukup khawatir dan hatiku bergidik. “Bercandalah!”, serunya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang tertahan. Dia tahu kalau aku memandangnya dengan perasaan kaget sehingga dia pun mencoba untuk memupus kekhawatiranku. Namun sayang, sorot matanya jelas-jelas menelanjangi jiwanya yang sedang dibantai nestapa. Senyuman yang dia lukis dengan sepasang bibir tipisnya pun tak sanggup menutupi kesedihannya.

Sekalipun ingin mati tentu harus dengan cara yang elegan. Menyerah atas hidup pastinya sangat memalukan. Bagus kalau kau tahu itu. Jadi, sekarang kau mengurungkan niatmu, kan?”, kataku dengan nada setengah bercanda. Aku mencoba untuk menjauhkannya dari pikiran buruk itu. Dia hanya membisu, sambil membuka kaleng bir untuk kesekian-kalinya. Sejak aku tiba di rumahnya, dia sudah menghabiskan dua kaleng dan ini adalah kaleng ketiga. Namun, kulihat sudah ada lima kaleng kosong yang berserakan di lantai dan masih ada setengah lusin di meja.

Hei, kau dengar tidak? Kau sudah minum terlalu banyak. Sekarang aku disini. Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan? Masalah apa sebenarnya? Apa kau menyuruhku datang hanya karena ide bosan hidup ini?”, aku bertanya padanya. Dia tak menjawab dan hanya diam sambil menyandarkan diri di sofa, memandangku dengan tatapan kosong, kembali meneguk bir dari kalengnya.

Oh, tidak. Gayamu sekarang ini sangat menyebalkan. Kau terlihat sangat jelek. Apa kau tahu itu?”, aku sengaja memancing emosinya tapi aku gagal. Dia sama sekali tak bereaksi. Padahal, aku tahu kalau dia adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap penampilan dan kecantikan. Kata ‘jelek’ biasanya sangat sensitif untuknya. Namun, tidak untuk sekarang, dia tetap tak bersuara, hanya meletakkan kaleng birnya dan memejamkan mata.

Ruangan itu tiba-tiba saja larut dalam keheningan yang membius. Langkah detik sang waktu pun terdengar jelas dan semakin mempertegas kesunyian. Saat itu juga aku merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu barusan. Aku pikir kalau aku telah melukai perasaannya. Bagaimanapun juga dia telah memintaku datang, bukan sahabat-sahabatnya yang lain. Tentu ada sesuatu yang penting. Mungkin dia perlu waktu.

Baiklah, jika ini maumu. Aku akan menjadi patung pajangan. Maafkan aku. Bicaralah saat kau ingin. Aku akan tetap disini dan mendengarkan.”, kataku lalu ikut diam berpartisipasi dalam keheningan ruangan itu.

Aku duduk di lantai, di seberangnya, sambil menyandarkan diri di lemari televisi. Lima belas menit berlalu sudah dan kakiku mulai kesemutan. Sementara dia, kulihat masih tak bergeming. Mungkin dia tertidur. Sesaat kemudian, aku yang berencana bangkit untuk merenggangkan otot-otot kakiku tiba-tiba dikagetkan oleh suaranya.

Maaf. Tapi hidup ini, aku tak tahan lagi.”, hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya diam lagi. Kulihat ada bulir air mata yang mulai terbentuk di ujung matanya.

Ada banyak cara untuk mati, kau tahu? Tapi sangat tidak keren jika kau memilih untuk mempraktekkan cara-cara itu. Sebenarnya, ketika kau tersungkur lemah akibat dihempas oleh sisi gelap kehidupan, bukan mati yang harus kau pikirkan. Lagipula ketika seseorang benar-benar hampir mati, percayalah ia cenderung merasa takut. Kenapa kau tak berusaha untuk bangkit? Sulit memang. Tapi kau hanya perlu mencoba dan usahamu takkan sia-sia. Kau tahu, dengan cara bertahan dan menerima kenyataan yang menimpamu, itu saja, akan mengangkat harga dirimu, menjadikanmu pribadi yang mempesona.”, ulasku panjang lebar.

Aku tak ingin menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya. Semua orang punya masalah. Aku juga punya. Aku yakin dia akan menceritakannya sendiri bila dia mau. Yang paling penting saat ini adalah menghiburnya, menjauhkannya dari pikiran jelek itu. Aku berusaha. Sekarang aku tahu, alasannya memintaku datang adalah untuk menghentikannya berbuat bodoh. Jika dia benar-benar ingin mati, dia tidak perlu memberitahu siapa-siapa. Aku tahu dia merasa takut juga. Siapa yang tidak?

Dia menangis. Air mata menggenangi wajahnya. Isak tangisnya menciptakan sebuah simfoni dan meskipun berirama sendu, kini mengalir kembali nafas di dalam ruangan ini. Aku biarkan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal-bantal sofa. Sekarang aku yakin, dia tak akan melakukan apapun. Dia akan baik-baik saja. Aku terus berada disana, mengawasinya, hingga tangisannya terhenti dan dia tertidur.

*****

Tahukah kau? Ketika kau bersedih, jangan pernah kau tahan dalam hati, menangislah. Itu akan meringankan bebanmu. Temukanlah sahabat sejatimu! Dan ketika dunia berpaling darimu, berbagilah dengannya. Carilah dia, aku percaya dia tak akan mengecewakanmu. Jangan sia-siakan hidup ini! Badai pasti berlalu.

Untuk sahabat-sahabatku. Peace!

2010-08-25,
Stef

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: