Archive for the ‘ Short Stories ’ Category

Spaghetti Panggang Ala Dewi

Siang itu, Dewi sedang ber-eksperimen di dapur untuk membuat Spaghetti Panggang. Sepertinya aku, yang doyan makan, memang datang pada waktu yang tepat. Melihat aku datang, Dewi pun memintaku untuk membantu pekerjaannya, “Hei, pas banget kamu datang. Aku lagi masak nih. Bantu ya.” Aku pun menggodanya, “Oalah, aku baru datang sudah diminta kerja. Bukannya nawarin apa kek. Hahaha…” Aku tertawa. “Jiahh… Ntar ku kasih hadiah deh.”, balasnya. “Hoh…, Hadiah apa?”, tanyaku. “Makan.”, singkatnya. Sontak aku tertawa, “Hahahaha. Itu artinya kamu minta aku cobain masakannya. Jadi tester. Dasar!” Dia pun lalu ikut tertawa. “Jadi mau bantu apa tidak nih?”, lanjutnya kemudian.

Tentu saja aku bersedia membantu. Aku pun segera menghampirinya dan menjawab, “Siap Bu, apa yang harus saya lakukan?” Dewi memintaku untuk memotong tomat, bawang bombay dan paprika dalam bentuk dadu kecil. Sementara kulihat dia sedang meracik bumbu. Dia memasukkan masing-masing seperempat cangkir lada hitam dan bubuk bawang putih ke dalam satu cangkir garam dan mengaduk-aduknya sampai rata. Selesai dengan bumbu itu, Dewi pun mencincang dua siung bawang putih dan daun sup. Dia melakukannya dengan cukup cepat. Sementara aku baru selesai dengan potongan tomat dan masih sibuk dengan bawang bombay dan paprika hijau, Dewi sudah terlihat sedang menyiapkan keju. Dia sudah selesai memarut keju Cheddar dan sekarang sedang memarut keju Mozzarella.

Tak lama kemudian aku pun selesai dengan tugasku tadi. Melihatku selesai, Dewi pun memintaku untuk memanaskan oven sampai 180 derajat Celcius. Kemudian dia memasukkan dua cangkir tomat yang sudah kupotong dadu tadi, dua cangkir saus tomat, satu cangkir air, bawang bombay dan paprika masing-masing setengah cangkir, bawang putih yang sudah dicincang, daun sup cincang secukupnya, bumbu racikan tadi beserta satu setengah sendok teh gula dan dua helai daun salam kecil ke dalam panci. Bahan-bahan ini kemudian dipanaskan dengan api besar lalu setelah cukup panas, api kemudian dikecilkan dan dibiarkan mendidih. Panci pun ditutup selama satu jam.

Sambil menunggu bumbu dalam panci, Dewi pun beralih ke daging sapi. Dia menghancurkan daging sapi seberat lebih kurang 700 gram itu dalam wajan besar. Daging itu dia masak dengan api sedang. Sementara itu, tidak ada lagi yang kukerjakan. Aku hanya mengamatinya saja sambil mengajaknya berbincang. “Tumben tiba-tiba hobi masak ini itu.”, kataku. “Iya nih, lagi belajar. Bentar lagi mau buka rumah makan.”, jawabnya. “Oh ya. Bagus dong. Hebat-hebat.” Aku senang mendengarnya. Beberapa saat kemudian, Dewi pun meniriskan lemak dari daging sapi yang sudah matang itu dan daging sapi itu pun dimasukkan ke dalam panci berisi bumbu tadi. “Nah, sekarang dididihkan kira-kira dua puluh menit lagi.”, jelas Dewi. “Kamu belajar dari mana Wi?”, tanyaku. “Dulu pernah lihat di tv tapi sudah lupa-lupa ingat. Jadi ini coba-coba.”, jawabnya singkat. “Sekarang kita harus masak pasta-nya.”, lanjutnya sambil memasak 250 gram pasta di dalam panci yang lain.

“Tolong ambilkan loyang itu dong.”, katanya kemudian setelah pastanya jadi. Aku pun menyodorkan loyang persegi dengan tinggi sekitar 6 cm yang berada di dekatku. Dewi pun menuangkan daging sapi yang sudah dimasak dengan bumbu tadi ke dalamnya. Kemudian memasukkan pasta diatasnya, menambahkan keju-keju parut tadi, dan kembali menuangkan kuah daging sapinya. Dewi berhasil membuat dua lapisan dengan kuah daging sapi sebagai lapisan atasnya. Loyang ini lalu dimasukkan ke dalam oven untuk dipanggang selama setengah jam. Setelah selesai, Dewi menambahkan keju sisa diatasnya dan memasukkannya kembali ke dalam oven sekitar lima menit sehingga keju tadi meleleh dan berbuih.

“Yay… Spaghetti panggang ala Dewi siap dihidangkan.”, seru Dewi sambil mengeluarkan loyang itu dari oven. Baunya sedap dan sangat menggoda. Aku merasa tidak sabar untuk segera mencicipinya. Dewi pun memotongnya kotak-kotak dan membagikannya untukku. “Wow. Enak. Rasanya mantap!”, seruku segera pada gigitan yang pertama. “Wi, sepertinya punya bakat masak nih.”, pujiku. “Tidak sia-sia aku kemari hari ini. Dapat makan enak. Hahahaha.”, lanjutku sambil tertawa.

2011-10-05,
Stef

Advertisements

Mudja, Sang Pangeran Semut

Di sebuah rimba hutan yang luas, hiduplah sekelompok semut hitam yang dipimpin oleh seorang Ratu. Rakyat semut hidup rukun dan saling berpangku tangan antara sesama. Mereka bergotong royong demi keberlangsungan hidup mereka.

Setiap pangeran dan putri semut juga diajarkan untuk berbaur dengan para semut pekerja dan rakyat semut lainnya. Mereka harus ikut bergotong royong sehingga mereka menjadi tidak sombong.

Mudja adalah salah satu dari pangeran semut. Dia sangat cerdas sehingga sang Ratu sangat menyayanginya. Namun, kasih sayang sang Ratu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang sombong. Mudja tidak pernah mau berkumpul dan bergotong royong bersama dengan rakyatnya. Pangeran dan Putri semut yang lain pun sering menasehatinya. Namun, Mudja tidak pernah peduli dengan semua nasehat dan himbauan saudara-saudarinya. Mudja tak menghiraukan mereka.

Suatu ketika terjadi hujan yang sangat deras selama berhari-hari. Air hujan tak henti-hentinya menguyur hutan sehingga kerajaan semut yang letaknya jauh di bawah tanah menjadi korban pertama dari musibah banjir ini.

Rakyat semut berhamburan ke atas dan mencari perlindungan di pepohonan. Semuanya panik dan berusaha menyelamatkan diri. Rakyat semut pun tercerai berai oleh musibah ini. Banyak semut-semut yang hilang terbawa air. Banyak pula yang mati kaku. Akibatnya, banyak semut yang terpisah dan kehilangan keluarganya. Begitu juga dengan Mudja. Sang Ratu tidak berhasil menyelamatkan diri termasuk beberapa Pangeran dan Putri semut.

Setelah hujan berhari-hari, matahari akhirnya kembali menebarkan sinarnya. Rakyat semut yang selamat pun sibuk bergotong royong membangun kembali kerajaan mereka. Namun, tidak ada seekor semut pun yang teringat dengan Mudja. Hal ini dikarenakan kesombongan dan keangkuhannya sehingga tidak ada yang mau bersama dengannya. Kini Mudja tidak lagi memiliki tempat bergantung. Tidak ada lagi yang melindunginya seperti sang Ratu. Merasa di tinggal sendiri, Mudja pun mulai menangis.

Pada saat itu, Mudja teringat kembali akan kelakuannya dulu, maka tak heran bila tidak ada seekor semut pun yang mau membantunya. Mudja pun mulai sadar atas kesalahannya. Setiap hari Mudja bermaksud untuk menyapa dan ikut menolong para semut yang lain. Namun dirinya malu dan tidak memiliki keberanian sehingga hanya dapat melihat dari kejauhan selama berhari-hari.

Hingga suatu hari, seekor semut pekerja terseret arus air saat hendak mengambil air minum untuk semut-semut yang lain. Semut itu berusaha untuk naik ke daratan namun arus air yang kuat menyebabkan dirinya tak mampu bergerak. Semut itu hanya dapat bertahan dengan memegang akar pohon. Mudja, yang saat itu sedang mengumpulkan makanan, mendengar permintaan tolong dari semut pekerja itu dan lekas menolongnya. Mudja mengambil sebatang ranting kecil dan menjulurkannya pada semut pekerja itu untuk diraih agar ia dapat menariknya ke tepian. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya semut pekerja itu berhasil diselamatkan.

Mudja mengantarnya pulang kepada semut-semut yang lain. Pada saat melihat mereka berdua, kerumunan semut pun menyangka bahwa Mudja telah mencelakakan semut pekerja tadi sehingga mengeluarkan sindiran-sindiran. Kemudian setelah semut pekerja itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, para semut yang lain pun mengerti. Di saat yang sama, Mudja mengakui kesalahannya dulu dan menyampaikan niatnya untuk bergabung dan membangun kembali tempat tinggal mereka. Melihat kesungguhan Mudja, para semut pun menerimanya.

Setelah Ratu baru terpilih maka kerajaan semut pun mulai kembali seperti semula. Sejak saat itu, Mudja tidak pernah sombong serta ringan tangan membantu sesama sekalipun tidak diminta. Saat ini, Mudja hidup bahagia bersama dengan yang lainnya.

Original story by Dewi Sisilia Kulimno

2011-09-03,
Edited by Stef

Love You, I’ll Always Do

Aku sedang duduk di balkon kamarku—menatap angkasa yang berselimut kabut abu sambil mendengarkan suara gemuruh yang serupa hela nafas panjangku—ketika aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku pun memalingkan wajahku, meninggalkan pertunjukan awan-awan yang sedang berpacu. Aku bangkit dan berusaha mencari suara itu. Namun, tak ada seorang pun disitu. Aku diam, memasang baik-baik telingaku dan menunggu. Akan tetapi suara itu tak kunjung terdengar lagi—ia hilang berlalu.

Suara itu tak pernah kulupa. Adalah suara yang sama, suara yang pertama kali kudengar—setiap pagi—ketika matahari menguak jendela kamarku. Hanya saja, kini satu tahun telah berlalu, suara itu tak lagi sejelas masa-masa itu. Sekarang, ia hanya sayup-sayup terdengar di dalam ruang akustik pikiranku. Kadang-kadang lamunan atau kenangan, sesekali memang suka menggoda indera pendengaranku. Aku sadar. Aku tahu. Tapi anehnya, aku masih suka saja tertipu. Aku selalu tersenyum, tentu saja, seperti saat ini.

Aku sangat merindukannya.

Aku kembali duduk, menengadah ke langit, berharap dapat kembali mengikuti iring-iringan awan-awan tadi. Namun, semua tak lagi sama. Angkasa senja demikian cepat berubah. Sekarang, tampak lebih gelap. Angin berhembus kencang. Suara gemuruh yang lembut pun sudah tergantikan oleh guntur yang menggelegar. Dalam sekejap, butir-butir air jatuh deras di hadapanku. Hujan.

Aku tetap duduk, tak ada niat untuk beranjak sedikitpun meski udara yang lembab dan dingin sedikit memprovokasiku. Aku terlanjur tenggelam dalam sebuah perenungan yang dalam. Kubiarkan jiwaku hanyut terbawa arus yang membawaku kembali pada saat lima tahun yang lalu.

Seperti senja ini, guntur dengan sombongnya berteriak, angin membuat keributan di segala penjuru dan awan-awan pun menangis hebat. Payung kecil yang selalu kubawa tak banyak membantu sehingga aku segera berlari untuk mencari tempat teduh dengan maksud menunggu hingga hujan berlalu. Di tengah-tengah ketergesaanku waktu itu, aku tersandung dan terjatuh tanpa berhasil menahan tubuhku. Tasku terlepas dan payungku pun terlempar, menggelinding beberapa meter dariku. Aku basah kuyup. Sementara rasa perih pun mulai terasa pada tangan dan kakiku yang lecet. Aku berusaha berdiri. Namun, aku tak bisa. Rasa sakit di pergelangan kaki kananku benar-benar membatasi gerakanku.

Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari ke arahku. Dia menghampiriku lalu melepas jaketnya dan menutupi tubuhku yang sudah basah. “Grace, kau tidak apa-apa?” dia bertanya sambil memungut payung dan tasku. Sebelum aku sempat menjawab dan tanpa persetujuan dariku, dia sudah membopongku, membawaku ke sebuah plaza dan mendudukkan aku disitu dengan hati-hati. Aku masih ingat bagaimana ia tiba-tiba merasa malu—wajahnya memerah seperti tomat. Dia salah tingkah dan meminta maaf padaku.

Eh,.. Grace. Sorry! A…Aku…” Dia tampak lucu.
Thanks ya!” aku menyelanya dan memberikan sebuah senyuman manis untuknya.

Aku sama sekali tidak marah padanya. Dia sudah menolongku. Mungkin juga karena aku memang mengenalnya. Kejadian inilah yang kemudian mengakhiri persahabatan kami menjadi sebuah romantika cinta.

Suara guntur yang tiba-tiba kembali menggelegar cukup mengagetkan aku dan membawa kesadaranku kembali ke kekinian. Hujan masih tetap sibuk memainkan orkestra. Aku kembali ke dalam kamarku. Mataku sayu, menatap salah satu wajah di dalam bingkai foto itu. Dan tanpa kusadari, air mata menggenangi wajahku. Kali ini aku kembali mengenang. Pasrah kubiarkan ombak kesedihan menyeretku kembali pada saat dia meninggalkanku satu tahun yang lalu.

Aku masih ingat dengan jelas saat-saat terakhir ketika dia terbaring di kamar ICU. Dia meraih tanganku dan berkata, “Maaf Grace, aku harus pergi lebih dulu. Kau telah membuatku menjadi laki-laki yang paling bahagia dengan mencintaiku. Terima kasih telah memberiku kehormatan yang begitu besar dengan menjadi isteriku. Betapa beruntungnya aku?

Dia menatapku dalam-dalam. Matanya memberitahuku kalau dia sama sekali tidak ingin meninggalkan aku, dia tidak ingin melepaskan aku, dia sangat ingin berjuang untuk terus hidup. Aku menangis disampingnya. Aku tahu dia tidak berdaya meskipun dia tidak ingin menyerah. Para dokter pun telah mengerahkan usaha mereka yang terbaik. Dan dalam ketidak-berdayaannya itu, “Grace, berhentilah menangis. Ayo, dimana senyummu? Kamu telah menyempurnakan hidupku. Aku ingin kau tersenyum. Aku hanya satu bagian dalam hidupmu. Hanya satu. Kamu masih punya lebih banyak lagi,” bisiknya, “Jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi.

Air mataku mengalir semakin deras oleh denyut perasaan yang begitu memilukan hatiku bersama bisikan terakhirnya yang terus menerus membahana dan menggema di dalam kepalaku. Tepat satu tahun yang lalu—sebelum nafasnya membeku—dengan menggenggam erat tanganku, dia bilang, “Love you, I’ll always do!

2010-09-16,
Stef

Mati? Bukan! Hidup.

Bagaimana jadinya kalau bosan hidup? Mati?

Aku hanya meliriknya ketika dia melontarkan ide ini dan tak lama kemudian dia bilang, “Aku berniat untuk itu.

Mendengar ucapannya, aku setengah tak percaya. Dia yang kukenal bukanlah orang yang gampang menyerah atas hidup. Bagaimana mungkin dia berniat untuk mati? Tapi mimik wajahnya serius sehingga membuatku cukup khawatir dan hatiku bergidik. “Bercandalah!”, serunya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang tertahan. Dia tahu kalau aku memandangnya dengan perasaan kaget sehingga dia pun mencoba untuk memupus kekhawatiranku. Namun sayang, sorot matanya jelas-jelas menelanjangi jiwanya yang sedang dibantai nestapa. Senyuman yang dia lukis dengan sepasang bibir tipisnya pun tak sanggup menutupi kesedihannya.

Sekalipun ingin mati tentu harus dengan cara yang elegan. Menyerah atas hidup pastinya sangat memalukan. Bagus kalau kau tahu itu. Jadi, sekarang kau mengurungkan niatmu, kan?”, kataku dengan nada setengah bercanda. Aku mencoba untuk menjauhkannya dari pikiran buruk itu. Dia hanya membisu, sambil membuka kaleng bir untuk kesekian-kalinya. Sejak aku tiba di rumahnya, dia sudah menghabiskan dua kaleng dan ini adalah kaleng ketiga. Namun, kulihat sudah ada lima kaleng kosong yang berserakan di lantai dan masih ada setengah lusin di meja.

Hei, kau dengar tidak? Kau sudah minum terlalu banyak. Sekarang aku disini. Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan? Masalah apa sebenarnya? Apa kau menyuruhku datang hanya karena ide bosan hidup ini?”, aku bertanya padanya. Dia tak menjawab dan hanya diam sambil menyandarkan diri di sofa, memandangku dengan tatapan kosong, kembali meneguk bir dari kalengnya.

Oh, tidak. Gayamu sekarang ini sangat menyebalkan. Kau terlihat sangat jelek. Apa kau tahu itu?”, aku sengaja memancing emosinya tapi aku gagal. Dia sama sekali tak bereaksi. Padahal, aku tahu kalau dia adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap penampilan dan kecantikan. Kata ‘jelek’ biasanya sangat sensitif untuknya. Namun, tidak untuk sekarang, dia tetap tak bersuara, hanya meletakkan kaleng birnya dan memejamkan mata.

Ruangan itu tiba-tiba saja larut dalam keheningan yang membius. Langkah detik sang waktu pun terdengar jelas dan semakin mempertegas kesunyian. Saat itu juga aku merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu barusan. Aku pikir kalau aku telah melukai perasaannya. Bagaimanapun juga dia telah memintaku datang, bukan sahabat-sahabatnya yang lain. Tentu ada sesuatu yang penting. Mungkin dia perlu waktu.

Baiklah, jika ini maumu. Aku akan menjadi patung pajangan. Maafkan aku. Bicaralah saat kau ingin. Aku akan tetap disini dan mendengarkan.”, kataku lalu ikut diam berpartisipasi dalam keheningan ruangan itu.

Aku duduk di lantai, di seberangnya, sambil menyandarkan diri di lemari televisi. Lima belas menit berlalu sudah dan kakiku mulai kesemutan. Sementara dia, kulihat masih tak bergeming. Mungkin dia tertidur. Sesaat kemudian, aku yang berencana bangkit untuk merenggangkan otot-otot kakiku tiba-tiba dikagetkan oleh suaranya.

Maaf. Tapi hidup ini, aku tak tahan lagi.”, hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya diam lagi. Kulihat ada bulir air mata yang mulai terbentuk di ujung matanya.

Ada banyak cara untuk mati, kau tahu? Tapi sangat tidak keren jika kau memilih untuk mempraktekkan cara-cara itu. Sebenarnya, ketika kau tersungkur lemah akibat dihempas oleh sisi gelap kehidupan, bukan mati yang harus kau pikirkan. Lagipula ketika seseorang benar-benar hampir mati, percayalah ia cenderung merasa takut. Kenapa kau tak berusaha untuk bangkit? Sulit memang. Tapi kau hanya perlu mencoba dan usahamu takkan sia-sia. Kau tahu, dengan cara bertahan dan menerima kenyataan yang menimpamu, itu saja, akan mengangkat harga dirimu, menjadikanmu pribadi yang mempesona.”, ulasku panjang lebar.

Aku tak ingin menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya. Semua orang punya masalah. Aku juga punya. Aku yakin dia akan menceritakannya sendiri bila dia mau. Yang paling penting saat ini adalah menghiburnya, menjauhkannya dari pikiran jelek itu. Aku berusaha. Sekarang aku tahu, alasannya memintaku datang adalah untuk menghentikannya berbuat bodoh. Jika dia benar-benar ingin mati, dia tidak perlu memberitahu siapa-siapa. Aku tahu dia merasa takut juga. Siapa yang tidak?

Dia menangis. Air mata menggenangi wajahnya. Isak tangisnya menciptakan sebuah simfoni dan meskipun berirama sendu, kini mengalir kembali nafas di dalam ruangan ini. Aku biarkan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal-bantal sofa. Sekarang aku yakin, dia tak akan melakukan apapun. Dia akan baik-baik saja. Aku terus berada disana, mengawasinya, hingga tangisannya terhenti dan dia tertidur.

*****

Tahukah kau? Ketika kau bersedih, jangan pernah kau tahan dalam hati, menangislah. Itu akan meringankan bebanmu. Temukanlah sahabat sejatimu! Dan ketika dunia berpaling darimu, berbagilah dengannya. Carilah dia, aku percaya dia tak akan mengecewakanmu. Jangan sia-siakan hidup ini! Badai pasti berlalu.

Untuk sahabat-sahabatku. Peace!

2010-08-25,
Stef