Penantian

Waktu terus bergulir
Dan aku masih menunggu
Berkutat tanpa akhir
Dalam penantian panjangku

Kini menjadi keraguan
Yang menusuk sesak dadaku
Akhir sebuah pilihan
Pengorbanan yang tak perlu

Salahkan nisbinya hidup
Kalau bukan ketak-becusanku
Asaku mulai redup
Haruskah aku terus menunggu

2011-08-03,
Stef

Gelisah

Kegelisahan menyelinap
Mengusik hati yang tenang
Benak dibawa melayang
Dalam bingung yang gemerlap

Aku berlari dan terus berlari
Hanya untuk tersesat kemudian
Tanpa arah tanpa tujuan
Di tengah dunia yang sunyi

Kekhawatiran yang sempurna
Keresahan yang mempesona
Tak pernah kupikir kian menawan
Mengungkungku tanpa keraguan

Kemana harus kucari sang jalan
Dimana rambu tak saling mempertanyakan
Masih adakah seberkas harapan
Walau hanya redup dian

2011-07-28,
Stef

Mendekatlah…

Mendekatlah….
Ada yang hendak kubisikkan
Tentang pelangi setelah hujan
Tentang senja menjelang malam
Tentang cinta dan harapan
Yang kita selipkan
di balik setiap pertengkaran.

2011-02-02,
Stef

Love You, I’ll Always Do

Aku sedang duduk di balkon kamarku—menatap angkasa yang berselimut kabut abu sambil mendengarkan suara gemuruh yang serupa hela nafas panjangku—ketika aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku pun memalingkan wajahku, meninggalkan pertunjukan awan-awan yang sedang berpacu. Aku bangkit dan berusaha mencari suara itu. Namun, tak ada seorang pun disitu. Aku diam, memasang baik-baik telingaku dan menunggu. Akan tetapi suara itu tak kunjung terdengar lagi—ia hilang berlalu.

Suara itu tak pernah kulupa. Adalah suara yang sama, suara yang pertama kali kudengar—setiap pagi—ketika matahari menguak jendela kamarku. Hanya saja, kini satu tahun telah berlalu, suara itu tak lagi sejelas masa-masa itu. Sekarang, ia hanya sayup-sayup terdengar di dalam ruang akustik pikiranku. Kadang-kadang lamunan atau kenangan, sesekali memang suka menggoda indera pendengaranku. Aku sadar. Aku tahu. Tapi anehnya, aku masih suka saja tertipu. Aku selalu tersenyum, tentu saja, seperti saat ini.

Aku sangat merindukannya.

Aku kembali duduk, menengadah ke langit, berharap dapat kembali mengikuti iring-iringan awan-awan tadi. Namun, semua tak lagi sama. Angkasa senja demikian cepat berubah. Sekarang, tampak lebih gelap. Angin berhembus kencang. Suara gemuruh yang lembut pun sudah tergantikan oleh guntur yang menggelegar. Dalam sekejap, butir-butir air jatuh deras di hadapanku. Hujan.

Aku tetap duduk, tak ada niat untuk beranjak sedikitpun meski udara yang lembab dan dingin sedikit memprovokasiku. Aku terlanjur tenggelam dalam sebuah perenungan yang dalam. Kubiarkan jiwaku hanyut terbawa arus yang membawaku kembali pada saat lima tahun yang lalu.

Seperti senja ini, guntur dengan sombongnya berteriak, angin membuat keributan di segala penjuru dan awan-awan pun menangis hebat. Payung kecil yang selalu kubawa tak banyak membantu sehingga aku segera berlari untuk mencari tempat teduh dengan maksud menunggu hingga hujan berlalu. Di tengah-tengah ketergesaanku waktu itu, aku tersandung dan terjatuh tanpa berhasil menahan tubuhku. Tasku terlepas dan payungku pun terlempar, menggelinding beberapa meter dariku. Aku basah kuyup. Sementara rasa perih pun mulai terasa pada tangan dan kakiku yang lecet. Aku berusaha berdiri. Namun, aku tak bisa. Rasa sakit di pergelangan kaki kananku benar-benar membatasi gerakanku.

Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari ke arahku. Dia menghampiriku lalu melepas jaketnya dan menutupi tubuhku yang sudah basah. “Grace, kau tidak apa-apa?” dia bertanya sambil memungut payung dan tasku. Sebelum aku sempat menjawab dan tanpa persetujuan dariku, dia sudah membopongku, membawaku ke sebuah plaza dan mendudukkan aku disitu dengan hati-hati. Aku masih ingat bagaimana ia tiba-tiba merasa malu—wajahnya memerah seperti tomat. Dia salah tingkah dan meminta maaf padaku.

Eh,.. Grace. Sorry! A…Aku…” Dia tampak lucu.
Thanks ya!” aku menyelanya dan memberikan sebuah senyuman manis untuknya.

Aku sama sekali tidak marah padanya. Dia sudah menolongku. Mungkin juga karena aku memang mengenalnya. Kejadian inilah yang kemudian mengakhiri persahabatan kami menjadi sebuah romantika cinta.

Suara guntur yang tiba-tiba kembali menggelegar cukup mengagetkan aku dan membawa kesadaranku kembali ke kekinian. Hujan masih tetap sibuk memainkan orkestra. Aku kembali ke dalam kamarku. Mataku sayu, menatap salah satu wajah di dalam bingkai foto itu. Dan tanpa kusadari, air mata menggenangi wajahku. Kali ini aku kembali mengenang. Pasrah kubiarkan ombak kesedihan menyeretku kembali pada saat dia meninggalkanku satu tahun yang lalu.

Aku masih ingat dengan jelas saat-saat terakhir ketika dia terbaring di kamar ICU. Dia meraih tanganku dan berkata, “Maaf Grace, aku harus pergi lebih dulu. Kau telah membuatku menjadi laki-laki yang paling bahagia dengan mencintaiku. Terima kasih telah memberiku kehormatan yang begitu besar dengan menjadi isteriku. Betapa beruntungnya aku?

Dia menatapku dalam-dalam. Matanya memberitahuku kalau dia sama sekali tidak ingin meninggalkan aku, dia tidak ingin melepaskan aku, dia sangat ingin berjuang untuk terus hidup. Aku menangis disampingnya. Aku tahu dia tidak berdaya meskipun dia tidak ingin menyerah. Para dokter pun telah mengerahkan usaha mereka yang terbaik. Dan dalam ketidak-berdayaannya itu, “Grace, berhentilah menangis. Ayo, dimana senyummu? Kamu telah menyempurnakan hidupku. Aku ingin kau tersenyum. Aku hanya satu bagian dalam hidupmu. Hanya satu. Kamu masih punya lebih banyak lagi,” bisiknya, “Jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi.

Air mataku mengalir semakin deras oleh denyut perasaan yang begitu memilukan hatiku bersama bisikan terakhirnya yang terus menerus membahana dan menggema di dalam kepalaku. Tepat satu tahun yang lalu—sebelum nafasnya membeku—dengan menggenggam erat tanganku, dia bilang, “Love you, I’ll always do!

2010-09-16,
Stef

Mati? Bukan! Hidup.

Bagaimana jadinya kalau bosan hidup? Mati?

Aku hanya meliriknya ketika dia melontarkan ide ini dan tak lama kemudian dia bilang, “Aku berniat untuk itu.

Mendengar ucapannya, aku setengah tak percaya. Dia yang kukenal bukanlah orang yang gampang menyerah atas hidup. Bagaimana mungkin dia berniat untuk mati? Tapi mimik wajahnya serius sehingga membuatku cukup khawatir dan hatiku bergidik. “Bercandalah!”, serunya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang tertahan. Dia tahu kalau aku memandangnya dengan perasaan kaget sehingga dia pun mencoba untuk memupus kekhawatiranku. Namun sayang, sorot matanya jelas-jelas menelanjangi jiwanya yang sedang dibantai nestapa. Senyuman yang dia lukis dengan sepasang bibir tipisnya pun tak sanggup menutupi kesedihannya.

Sekalipun ingin mati tentu harus dengan cara yang elegan. Menyerah atas hidup pastinya sangat memalukan. Bagus kalau kau tahu itu. Jadi, sekarang kau mengurungkan niatmu, kan?”, kataku dengan nada setengah bercanda. Aku mencoba untuk menjauhkannya dari pikiran buruk itu. Dia hanya membisu, sambil membuka kaleng bir untuk kesekian-kalinya. Sejak aku tiba di rumahnya, dia sudah menghabiskan dua kaleng dan ini adalah kaleng ketiga. Namun, kulihat sudah ada lima kaleng kosong yang berserakan di lantai dan masih ada setengah lusin di meja.

Hei, kau dengar tidak? Kau sudah minum terlalu banyak. Sekarang aku disini. Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan? Masalah apa sebenarnya? Apa kau menyuruhku datang hanya karena ide bosan hidup ini?”, aku bertanya padanya. Dia tak menjawab dan hanya diam sambil menyandarkan diri di sofa, memandangku dengan tatapan kosong, kembali meneguk bir dari kalengnya.

Oh, tidak. Gayamu sekarang ini sangat menyebalkan. Kau terlihat sangat jelek. Apa kau tahu itu?”, aku sengaja memancing emosinya tapi aku gagal. Dia sama sekali tak bereaksi. Padahal, aku tahu kalau dia adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap penampilan dan kecantikan. Kata ‘jelek’ biasanya sangat sensitif untuknya. Namun, tidak untuk sekarang, dia tetap tak bersuara, hanya meletakkan kaleng birnya dan memejamkan mata.

Ruangan itu tiba-tiba saja larut dalam keheningan yang membius. Langkah detik sang waktu pun terdengar jelas dan semakin mempertegas kesunyian. Saat itu juga aku merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu barusan. Aku pikir kalau aku telah melukai perasaannya. Bagaimanapun juga dia telah memintaku datang, bukan sahabat-sahabatnya yang lain. Tentu ada sesuatu yang penting. Mungkin dia perlu waktu.

Baiklah, jika ini maumu. Aku akan menjadi patung pajangan. Maafkan aku. Bicaralah saat kau ingin. Aku akan tetap disini dan mendengarkan.”, kataku lalu ikut diam berpartisipasi dalam keheningan ruangan itu.

Aku duduk di lantai, di seberangnya, sambil menyandarkan diri di lemari televisi. Lima belas menit berlalu sudah dan kakiku mulai kesemutan. Sementara dia, kulihat masih tak bergeming. Mungkin dia tertidur. Sesaat kemudian, aku yang berencana bangkit untuk merenggangkan otot-otot kakiku tiba-tiba dikagetkan oleh suaranya.

Maaf. Tapi hidup ini, aku tak tahan lagi.”, hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya diam lagi. Kulihat ada bulir air mata yang mulai terbentuk di ujung matanya.

Ada banyak cara untuk mati, kau tahu? Tapi sangat tidak keren jika kau memilih untuk mempraktekkan cara-cara itu. Sebenarnya, ketika kau tersungkur lemah akibat dihempas oleh sisi gelap kehidupan, bukan mati yang harus kau pikirkan. Lagipula ketika seseorang benar-benar hampir mati, percayalah ia cenderung merasa takut. Kenapa kau tak berusaha untuk bangkit? Sulit memang. Tapi kau hanya perlu mencoba dan usahamu takkan sia-sia. Kau tahu, dengan cara bertahan dan menerima kenyataan yang menimpamu, itu saja, akan mengangkat harga dirimu, menjadikanmu pribadi yang mempesona.”, ulasku panjang lebar.

Aku tak ingin menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya. Semua orang punya masalah. Aku juga punya. Aku yakin dia akan menceritakannya sendiri bila dia mau. Yang paling penting saat ini adalah menghiburnya, menjauhkannya dari pikiran jelek itu. Aku berusaha. Sekarang aku tahu, alasannya memintaku datang adalah untuk menghentikannya berbuat bodoh. Jika dia benar-benar ingin mati, dia tidak perlu memberitahu siapa-siapa. Aku tahu dia merasa takut juga. Siapa yang tidak?

Dia menangis. Air mata menggenangi wajahnya. Isak tangisnya menciptakan sebuah simfoni dan meskipun berirama sendu, kini mengalir kembali nafas di dalam ruangan ini. Aku biarkan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal-bantal sofa. Sekarang aku yakin, dia tak akan melakukan apapun. Dia akan baik-baik saja. Aku terus berada disana, mengawasinya, hingga tangisannya terhenti dan dia tertidur.

*****

Tahukah kau? Ketika kau bersedih, jangan pernah kau tahan dalam hati, menangislah. Itu akan meringankan bebanmu. Temukanlah sahabat sejatimu! Dan ketika dunia berpaling darimu, berbagilah dengannya. Carilah dia, aku percaya dia tak akan mengecewakanmu. Jangan sia-siakan hidup ini! Badai pasti berlalu.

Untuk sahabat-sahabatku. Peace!

2010-08-25,
Stef

Karimunjawa Mania

Karimunjawa Mania

Karimunjawa Mania May 2010

Mengkhayal

Duduk disini,
Aku merindukan masa depan.
Harapan bergejolak di sepasang mataku,
Berkilau bersama senyuman.
Aku hanyut terbawa arus waktu,
Terdampar di sebuah tempat
yang penuh imaginasi.

2010-04-01,
Stef