Posts Tagged ‘ Life ’

Penantian

Waktu terus bergulir
Dan aku masih menunggu
Berkutat tanpa akhir
Dalam penantian panjangku

Kini menjadi keraguan
Yang menusuk sesak dadaku
Akhir sebuah pilihan
Pengorbanan yang tak perlu

Salahkan nisbinya hidup
Kalau bukan ketak-becusanku
Asaku mulai redup
Haruskah aku terus menunggu

2011-08-03,
Stef

Gelisah

Kegelisahan menyelinap
Mengusik hati yang tenang
Benak dibawa melayang
Dalam bingung yang gemerlap

Aku berlari dan terus berlari
Hanya untuk tersesat kemudian
Tanpa arah tanpa tujuan
Di tengah dunia yang sunyi

Kekhawatiran yang sempurna
Keresahan yang mempesona
Tak pernah kupikir kian menawan
Mengungkungku tanpa keraguan

Kemana harus kucari sang jalan
Dimana rambu tak saling mempertanyakan
Masih adakah seberkas harapan
Walau hanya redup dian

2011-07-28,
Stef

Mati? Bukan! Hidup.

Bagaimana jadinya kalau bosan hidup? Mati?

Aku hanya meliriknya ketika dia melontarkan ide ini dan tak lama kemudian dia bilang, “Aku berniat untuk itu.

Mendengar ucapannya, aku setengah tak percaya. Dia yang kukenal bukanlah orang yang gampang menyerah atas hidup. Bagaimana mungkin dia berniat untuk mati? Tapi mimik wajahnya serius sehingga membuatku cukup khawatir dan hatiku bergidik. “Bercandalah!”, serunya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang tertahan. Dia tahu kalau aku memandangnya dengan perasaan kaget sehingga dia pun mencoba untuk memupus kekhawatiranku. Namun sayang, sorot matanya jelas-jelas menelanjangi jiwanya yang sedang dibantai nestapa. Senyuman yang dia lukis dengan sepasang bibir tipisnya pun tak sanggup menutupi kesedihannya.

Sekalipun ingin mati tentu harus dengan cara yang elegan. Menyerah atas hidup pastinya sangat memalukan. Bagus kalau kau tahu itu. Jadi, sekarang kau mengurungkan niatmu, kan?”, kataku dengan nada setengah bercanda. Aku mencoba untuk menjauhkannya dari pikiran buruk itu. Dia hanya membisu, sambil membuka kaleng bir untuk kesekian-kalinya. Sejak aku tiba di rumahnya, dia sudah menghabiskan dua kaleng dan ini adalah kaleng ketiga. Namun, kulihat sudah ada lima kaleng kosong yang berserakan di lantai dan masih ada setengah lusin di meja.

Hei, kau dengar tidak? Kau sudah minum terlalu banyak. Sekarang aku disini. Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan? Masalah apa sebenarnya? Apa kau menyuruhku datang hanya karena ide bosan hidup ini?”, aku bertanya padanya. Dia tak menjawab dan hanya diam sambil menyandarkan diri di sofa, memandangku dengan tatapan kosong, kembali meneguk bir dari kalengnya.

Oh, tidak. Gayamu sekarang ini sangat menyebalkan. Kau terlihat sangat jelek. Apa kau tahu itu?”, aku sengaja memancing emosinya tapi aku gagal. Dia sama sekali tak bereaksi. Padahal, aku tahu kalau dia adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap penampilan dan kecantikan. Kata ‘jelek’ biasanya sangat sensitif untuknya. Namun, tidak untuk sekarang, dia tetap tak bersuara, hanya meletakkan kaleng birnya dan memejamkan mata.

Ruangan itu tiba-tiba saja larut dalam keheningan yang membius. Langkah detik sang waktu pun terdengar jelas dan semakin mempertegas kesunyian. Saat itu juga aku merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu barusan. Aku pikir kalau aku telah melukai perasaannya. Bagaimanapun juga dia telah memintaku datang, bukan sahabat-sahabatnya yang lain. Tentu ada sesuatu yang penting. Mungkin dia perlu waktu.

Baiklah, jika ini maumu. Aku akan menjadi patung pajangan. Maafkan aku. Bicaralah saat kau ingin. Aku akan tetap disini dan mendengarkan.”, kataku lalu ikut diam berpartisipasi dalam keheningan ruangan itu.

Aku duduk di lantai, di seberangnya, sambil menyandarkan diri di lemari televisi. Lima belas menit berlalu sudah dan kakiku mulai kesemutan. Sementara dia, kulihat masih tak bergeming. Mungkin dia tertidur. Sesaat kemudian, aku yang berencana bangkit untuk merenggangkan otot-otot kakiku tiba-tiba dikagetkan oleh suaranya.

Maaf. Tapi hidup ini, aku tak tahan lagi.”, hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya diam lagi. Kulihat ada bulir air mata yang mulai terbentuk di ujung matanya.

Ada banyak cara untuk mati, kau tahu? Tapi sangat tidak keren jika kau memilih untuk mempraktekkan cara-cara itu. Sebenarnya, ketika kau tersungkur lemah akibat dihempas oleh sisi gelap kehidupan, bukan mati yang harus kau pikirkan. Lagipula ketika seseorang benar-benar hampir mati, percayalah ia cenderung merasa takut. Kenapa kau tak berusaha untuk bangkit? Sulit memang. Tapi kau hanya perlu mencoba dan usahamu takkan sia-sia. Kau tahu, dengan cara bertahan dan menerima kenyataan yang menimpamu, itu saja, akan mengangkat harga dirimu, menjadikanmu pribadi yang mempesona.”, ulasku panjang lebar.

Aku tak ingin menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya. Semua orang punya masalah. Aku juga punya. Aku yakin dia akan menceritakannya sendiri bila dia mau. Yang paling penting saat ini adalah menghiburnya, menjauhkannya dari pikiran jelek itu. Aku berusaha. Sekarang aku tahu, alasannya memintaku datang adalah untuk menghentikannya berbuat bodoh. Jika dia benar-benar ingin mati, dia tidak perlu memberitahu siapa-siapa. Aku tahu dia merasa takut juga. Siapa yang tidak?

Dia menangis. Air mata menggenangi wajahnya. Isak tangisnya menciptakan sebuah simfoni dan meskipun berirama sendu, kini mengalir kembali nafas di dalam ruangan ini. Aku biarkan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal-bantal sofa. Sekarang aku yakin, dia tak akan melakukan apapun. Dia akan baik-baik saja. Aku terus berada disana, mengawasinya, hingga tangisannya terhenti dan dia tertidur.

*****

Tahukah kau? Ketika kau bersedih, jangan pernah kau tahan dalam hati, menangislah. Itu akan meringankan bebanmu. Temukanlah sahabat sejatimu! Dan ketika dunia berpaling darimu, berbagilah dengannya. Carilah dia, aku percaya dia tak akan mengecewakanmu. Jangan sia-siakan hidup ini! Badai pasti berlalu.

Untuk sahabat-sahabatku. Peace!

2010-08-25,
Stef

Mengkhayal

Duduk disini,
Aku merindukan masa depan.
Harapan bergejolak di sepasang mataku,
Berkilau bersama senyuman.
Aku hanyut terbawa arus waktu,
Terdampar di sebuah tempat
yang penuh imaginasi.

2010-04-01,
Stef

一杯绿茶

一杯绿茶

一杯绿茶

从来没想过一杯绿茶会形容友情的一种温馨。今天看到一位朋友,敏盈,这样写:

“朋友如茶,
冷冷的冬日,泡一杯浓浓的茶,
看翠绿的茶叶在水中舒展浮动,
一股淡淡的香气扑鼻而来,
这其实真是朋友的感觉,
宁静,
淡雅,
舒心,
温暖。”

再来,她写:

“朋友是什么?
是炎热的夏季,一杯清凉的绿茶,
沁人心脾,使你口舌生津,
是寒冷的冬日,一杯滚烫的花茶,
捧在手里,却一直暖到心里。”

我觉得很有意思。从一杯绿茶,敏盈,她告诉我们友谊的好故事。但,这样的朋友不多,很难找到。从而,我希望能给大家作为一样这种比喻里的好朋友。

Credit: Xu Min Ing

My Cuppa Coffee

A Cup of Cappuccino

A Cup of Cappuccino

Me: “Once upon a time…?”;
Me: “Oh, No!”;
Me: “Okay, Hmm… Then how should I start the story?”;

There’s a time that I need to be alone.

Me: “Stop! Stop! Stop!”;
Me: “Need to be alone? Really?”;
Me: “I witness that most of your lifetime, you spent it all alone.”;
Me: “Don’t you?”;
Me: “Well, don’t interrupt me please! Okay?”;
Me: “Peace!”;

Now I am sitting alone and waiting for my Cuppa Coffee, A cup of Cappuccino. Just wonder what to do. I’m just looking around and wow it’s pretty crowd. Few minutes later, finally, here comes my Cappuccino. Without waiting any longer, I’m taking a good, long swig and I lost myself in the moment. I guzzled down half of the container at once. The lightly flavored with just a hint of coffee, I love it.

And suddenly, I smile while taking a sip of it. This is just like a taste of my life, bittersweet, that’s it. And I realize that life is actually simple as it is. The way we think determine everything and mostly makes our life complicated with wishes, disappointment, uncertainty, dissatisfaction, annoyance and many others. At this moment, I’ve calmed down and I remember what you said to me couple days ago: “Take it easy, Live life happily”. Well, I’m trying.

I let this blended drink pacifies my mind, and somehow I see many wonderful things that once ever happened in my life. I present myself a big and a nice smile. This way I’m gonna end this note. I just wish that I could stay forever in this state when I could clearly see that when things seem to be tough, we may just need to resolve.

Thanks to this espresso blend and to you, the one who inspire me.

“For tomorrow I never know; for yesterday I can’t turn back; only present, the only option; this is where I should live.” – Me.

2009-12-08,
Stef

Kembali Melangkah

Sebuah jarak hanyalah sebuah jarak bagiku.
Demikian telah kubuktikan ucapanku.
Namun, hidup kembali membuatku hilang tumpu.
Demikian pula harus kurelakan itu.

Bukan sekali, maka kutahu.
Genap sudah dan cukup pula rasaku.
Hanya tersenyum dan aku membisu.
Membuka hati dan kuusir kabut kelabu.

Detik-detik sudah lama pula berlalu.
Menyusul menit-menit yang tak kalah pacu.
Kutaksir sih sudah berminggu-minggu.
Atau bahkan mungkin lebih dari itu.

Sudah saatnya kukumpulkan pecahan masa lalu.
Kurangkai dalam bingkai dan kujadikan satu.
Biarlah abadi dalam ketak-pastian waktu.
Di balik dadaku, di sebuah ruang tak berpintu.

Sementara, mulai kulanjutkan langkah kakiku.
Bergandengan tangan dengan kehangatan yang baru.
Sebuah persahabatan antara aku dan masa lalu.
Yang tak membelenggu batas ruang pikiranku.

Demikian tetap kupertahankan senyumanku.
Agar tetap terlukis dalam setiap hariku.
Mencoba jadi berarti pada tiap lembaran waktu.
Pada setiap yang kutemui di perjalananku.

2009-09-12,
Stef