Posts Tagged ‘ Sad ’

Love You, I’ll Always Do

Aku sedang duduk di balkon kamarku—menatap angkasa yang berselimut kabut abu sambil mendengarkan suara gemuruh yang serupa hela nafas panjangku—ketika aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku pun memalingkan wajahku, meninggalkan pertunjukan awan-awan yang sedang berpacu. Aku bangkit dan berusaha mencari suara itu. Namun, tak ada seorang pun disitu. Aku diam, memasang baik-baik telingaku dan menunggu. Akan tetapi suara itu tak kunjung terdengar lagi—ia hilang berlalu.

Suara itu tak pernah kulupa. Adalah suara yang sama, suara yang pertama kali kudengar—setiap pagi—ketika matahari menguak jendela kamarku. Hanya saja, kini satu tahun telah berlalu, suara itu tak lagi sejelas masa-masa itu. Sekarang, ia hanya sayup-sayup terdengar di dalam ruang akustik pikiranku. Kadang-kadang lamunan atau kenangan, sesekali memang suka menggoda indera pendengaranku. Aku sadar. Aku tahu. Tapi anehnya, aku masih suka saja tertipu. Aku selalu tersenyum, tentu saja, seperti saat ini.

Aku sangat merindukannya.

Aku kembali duduk, menengadah ke langit, berharap dapat kembali mengikuti iring-iringan awan-awan tadi. Namun, semua tak lagi sama. Angkasa senja demikian cepat berubah. Sekarang, tampak lebih gelap. Angin berhembus kencang. Suara gemuruh yang lembut pun sudah tergantikan oleh guntur yang menggelegar. Dalam sekejap, butir-butir air jatuh deras di hadapanku. Hujan.

Aku tetap duduk, tak ada niat untuk beranjak sedikitpun meski udara yang lembab dan dingin sedikit memprovokasiku. Aku terlanjur tenggelam dalam sebuah perenungan yang dalam. Kubiarkan jiwaku hanyut terbawa arus yang membawaku kembali pada saat lima tahun yang lalu.

Seperti senja ini, guntur dengan sombongnya berteriak, angin membuat keributan di segala penjuru dan awan-awan pun menangis hebat. Payung kecil yang selalu kubawa tak banyak membantu sehingga aku segera berlari untuk mencari tempat teduh dengan maksud menunggu hingga hujan berlalu. Di tengah-tengah ketergesaanku waktu itu, aku tersandung dan terjatuh tanpa berhasil menahan tubuhku. Tasku terlepas dan payungku pun terlempar, menggelinding beberapa meter dariku. Aku basah kuyup. Sementara rasa perih pun mulai terasa pada tangan dan kakiku yang lecet. Aku berusaha berdiri. Namun, aku tak bisa. Rasa sakit di pergelangan kaki kananku benar-benar membatasi gerakanku.

Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari ke arahku. Dia menghampiriku lalu melepas jaketnya dan menutupi tubuhku yang sudah basah. “Grace, kau tidak apa-apa?” dia bertanya sambil memungut payung dan tasku. Sebelum aku sempat menjawab dan tanpa persetujuan dariku, dia sudah membopongku, membawaku ke sebuah plaza dan mendudukkan aku disitu dengan hati-hati. Aku masih ingat bagaimana ia tiba-tiba merasa malu—wajahnya memerah seperti tomat. Dia salah tingkah dan meminta maaf padaku.

Eh,.. Grace. Sorry! A…Aku…” Dia tampak lucu.
Thanks ya!” aku menyelanya dan memberikan sebuah senyuman manis untuknya.

Aku sama sekali tidak marah padanya. Dia sudah menolongku. Mungkin juga karena aku memang mengenalnya. Kejadian inilah yang kemudian mengakhiri persahabatan kami menjadi sebuah romantika cinta.

Suara guntur yang tiba-tiba kembali menggelegar cukup mengagetkan aku dan membawa kesadaranku kembali ke kekinian. Hujan masih tetap sibuk memainkan orkestra. Aku kembali ke dalam kamarku. Mataku sayu, menatap salah satu wajah di dalam bingkai foto itu. Dan tanpa kusadari, air mata menggenangi wajahku. Kali ini aku kembali mengenang. Pasrah kubiarkan ombak kesedihan menyeretku kembali pada saat dia meninggalkanku satu tahun yang lalu.

Aku masih ingat dengan jelas saat-saat terakhir ketika dia terbaring di kamar ICU. Dia meraih tanganku dan berkata, “Maaf Grace, aku harus pergi lebih dulu. Kau telah membuatku menjadi laki-laki yang paling bahagia dengan mencintaiku. Terima kasih telah memberiku kehormatan yang begitu besar dengan menjadi isteriku. Betapa beruntungnya aku?

Dia menatapku dalam-dalam. Matanya memberitahuku kalau dia sama sekali tidak ingin meninggalkan aku, dia tidak ingin melepaskan aku, dia sangat ingin berjuang untuk terus hidup. Aku menangis disampingnya. Aku tahu dia tidak berdaya meskipun dia tidak ingin menyerah. Para dokter pun telah mengerahkan usaha mereka yang terbaik. Dan dalam ketidak-berdayaannya itu, “Grace, berhentilah menangis. Ayo, dimana senyummu? Kamu telah menyempurnakan hidupku. Aku ingin kau tersenyum. Aku hanya satu bagian dalam hidupmu. Hanya satu. Kamu masih punya lebih banyak lagi,” bisiknya, “Jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi.

Air mataku mengalir semakin deras oleh denyut perasaan yang begitu memilukan hatiku bersama bisikan terakhirnya yang terus menerus membahana dan menggema di dalam kepalaku. Tepat satu tahun yang lalu—sebelum nafasnya membeku—dengan menggenggam erat tanganku, dia bilang, “Love you, I’ll always do!

2010-09-16,
Stef

Nelangsa

Sebuah desakan dalam hatiku
Memaksa mataku menggenang
Tiada dayaku, cuma membatu
Oleh ingatan yang terkenang

Lama, aku hanya bisa diam
Biarkan ia mengoyak tiap inci
Luka-luka kelam terpendam
Dan nafasku seolah terhenti

Kaku, tak bergeming ragaku
Jerit jiwaku menepis nelangsa
Masih, tetap kau lihat wajahku
Hanya bekas-bekas air mata

2009-09-16,
Stef

Lone

i’m staring the space
and tears streaming down my face
as i feel a pointless life

i just fall into the final end
as i can’t endure these pain
and feel as though i’m no longer sane

i lose myself inside my head
preparing my own grave bed
as my feeling trapped real bad

i can’t go on, i can’t move on
as my soul cast in stone
waiting for the time and die in lone

2009-06-28,
Stef

Penyesalan

Akankah senyuman
masih menghias wajahku
setelah selusin pekat menggugat kenisbianku?

Bertahan dalam duka
yang mencabik-cabik jiwaku.
Aku hanya tertunduk diam membisu.

Tiada lagi jalan kembali
setelah sekian kali kesalahan.
Aku hanya bisa maju mengejar kebebasan.

Hening tiada geming
di malam dingin kelam kelabu,
air mata penyesalan tertahan di pelupuk mataku.

2005-02-26,
Stef