Posts Tagged ‘ Wisdom ’

The World Is Too Much With Us

The world is too much with us: late and soon,
Getting and spending, we lay waste our powers:
Little we see in nature that is ours;
We have given our hearts away, a sordid boon!
The sea that bares her bosom to the moon:
The winds that will be howling at all hours,
And are up-gathered now like sleeping flowers;
For this, for every thing, we are out of tune;
It moves us not. – Great God! I’d rather be
A pagan suckled in a creed outworn;
So might I, standing on this pleasant lea,
Have glimpses that would make me less forlorn;
Have sight of Proteus rising from the sea;
Or hear old Triton blow his wreathed horn.

William Wordsworth (1770-1850)

Advertisements

Computer’s Commands In Life

Delete yesterday’s troubles
Select today’s joys
Setup tomorrow’s happiness
Store your eternal love
Cancel the world hatred
Paste your wonderful mood
Copy the intoxicating scenery
Print out your best smile
Let every day be your happy day

Anonymous

Mudja, Sang Pangeran Semut

Di sebuah rimba hutan yang luas, hiduplah sekelompok semut hitam yang dipimpin oleh seorang Ratu. Rakyat semut hidup rukun dan saling berpangku tangan antara sesama. Mereka bergotong royong demi keberlangsungan hidup mereka.

Setiap pangeran dan putri semut juga diajarkan untuk berbaur dengan para semut pekerja dan rakyat semut lainnya. Mereka harus ikut bergotong royong sehingga mereka menjadi tidak sombong.

Mudja adalah salah satu dari pangeran semut. Dia sangat cerdas sehingga sang Ratu sangat menyayanginya. Namun, kasih sayang sang Ratu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang sombong. Mudja tidak pernah mau berkumpul dan bergotong royong bersama dengan rakyatnya. Pangeran dan Putri semut yang lain pun sering menasehatinya. Namun, Mudja tidak pernah peduli dengan semua nasehat dan himbauan saudara-saudarinya. Mudja tak menghiraukan mereka.

Suatu ketika terjadi hujan yang sangat deras selama berhari-hari. Air hujan tak henti-hentinya menguyur hutan sehingga kerajaan semut yang letaknya jauh di bawah tanah menjadi korban pertama dari musibah banjir ini.

Rakyat semut berhamburan ke atas dan mencari perlindungan di pepohonan. Semuanya panik dan berusaha menyelamatkan diri. Rakyat semut pun tercerai berai oleh musibah ini. Banyak semut-semut yang hilang terbawa air. Banyak pula yang mati kaku. Akibatnya, banyak semut yang terpisah dan kehilangan keluarganya. Begitu juga dengan Mudja. Sang Ratu tidak berhasil menyelamatkan diri termasuk beberapa Pangeran dan Putri semut.

Setelah hujan berhari-hari, matahari akhirnya kembali menebarkan sinarnya. Rakyat semut yang selamat pun sibuk bergotong royong membangun kembali kerajaan mereka. Namun, tidak ada seekor semut pun yang teringat dengan Mudja. Hal ini dikarenakan kesombongan dan keangkuhannya sehingga tidak ada yang mau bersama dengannya. Kini Mudja tidak lagi memiliki tempat bergantung. Tidak ada lagi yang melindunginya seperti sang Ratu. Merasa di tinggal sendiri, Mudja pun mulai menangis.

Pada saat itu, Mudja teringat kembali akan kelakuannya dulu, maka tak heran bila tidak ada seekor semut pun yang mau membantunya. Mudja pun mulai sadar atas kesalahannya. Setiap hari Mudja bermaksud untuk menyapa dan ikut menolong para semut yang lain. Namun dirinya malu dan tidak memiliki keberanian sehingga hanya dapat melihat dari kejauhan selama berhari-hari.

Hingga suatu hari, seekor semut pekerja terseret arus air saat hendak mengambil air minum untuk semut-semut yang lain. Semut itu berusaha untuk naik ke daratan namun arus air yang kuat menyebabkan dirinya tak mampu bergerak. Semut itu hanya dapat bertahan dengan memegang akar pohon. Mudja, yang saat itu sedang mengumpulkan makanan, mendengar permintaan tolong dari semut pekerja itu dan lekas menolongnya. Mudja mengambil sebatang ranting kecil dan menjulurkannya pada semut pekerja itu untuk diraih agar ia dapat menariknya ke tepian. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya semut pekerja itu berhasil diselamatkan.

Mudja mengantarnya pulang kepada semut-semut yang lain. Pada saat melihat mereka berdua, kerumunan semut pun menyangka bahwa Mudja telah mencelakakan semut pekerja tadi sehingga mengeluarkan sindiran-sindiran. Kemudian setelah semut pekerja itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, para semut yang lain pun mengerti. Di saat yang sama, Mudja mengakui kesalahannya dulu dan menyampaikan niatnya untuk bergabung dan membangun kembali tempat tinggal mereka. Melihat kesungguhan Mudja, para semut pun menerimanya.

Setelah Ratu baru terpilih maka kerajaan semut pun mulai kembali seperti semula. Sejak saat itu, Mudja tidak pernah sombong serta ringan tangan membantu sesama sekalipun tidak diminta. Saat ini, Mudja hidup bahagia bersama dengan yang lainnya.

Original story by Dewi Sisilia Kulimno

2011-09-03,
Edited by Stef

The Loner

If you can find one friend — good, persevering and true,
You will overcome all sorrow; mindful and happy will you live.

If you can’t find a good friend — live alone, like a king
who has renounced his throne or a lone elephant in the wild.

If you can’t find good company, solitary life is best;
There’s no fellowship with the fools; Be like the serpent lonely in its den.

Source: Kosambi Jataka

Mati? Bukan! Hidup.

Bagaimana jadinya kalau bosan hidup? Mati?

Aku hanya meliriknya ketika dia melontarkan ide ini dan tak lama kemudian dia bilang, “Aku berniat untuk itu.

Mendengar ucapannya, aku setengah tak percaya. Dia yang kukenal bukanlah orang yang gampang menyerah atas hidup. Bagaimana mungkin dia berniat untuk mati? Tapi mimik wajahnya serius sehingga membuatku cukup khawatir dan hatiku bergidik. “Bercandalah!”, serunya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang tertahan. Dia tahu kalau aku memandangnya dengan perasaan kaget sehingga dia pun mencoba untuk memupus kekhawatiranku. Namun sayang, sorot matanya jelas-jelas menelanjangi jiwanya yang sedang dibantai nestapa. Senyuman yang dia lukis dengan sepasang bibir tipisnya pun tak sanggup menutupi kesedihannya.

Sekalipun ingin mati tentu harus dengan cara yang elegan. Menyerah atas hidup pastinya sangat memalukan. Bagus kalau kau tahu itu. Jadi, sekarang kau mengurungkan niatmu, kan?”, kataku dengan nada setengah bercanda. Aku mencoba untuk menjauhkannya dari pikiran buruk itu. Dia hanya membisu, sambil membuka kaleng bir untuk kesekian-kalinya. Sejak aku tiba di rumahnya, dia sudah menghabiskan dua kaleng dan ini adalah kaleng ketiga. Namun, kulihat sudah ada lima kaleng kosong yang berserakan di lantai dan masih ada setengah lusin di meja.

Hei, kau dengar tidak? Kau sudah minum terlalu banyak. Sekarang aku disini. Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan? Masalah apa sebenarnya? Apa kau menyuruhku datang hanya karena ide bosan hidup ini?”, aku bertanya padanya. Dia tak menjawab dan hanya diam sambil menyandarkan diri di sofa, memandangku dengan tatapan kosong, kembali meneguk bir dari kalengnya.

Oh, tidak. Gayamu sekarang ini sangat menyebalkan. Kau terlihat sangat jelek. Apa kau tahu itu?”, aku sengaja memancing emosinya tapi aku gagal. Dia sama sekali tak bereaksi. Padahal, aku tahu kalau dia adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap penampilan dan kecantikan. Kata ‘jelek’ biasanya sangat sensitif untuknya. Namun, tidak untuk sekarang, dia tetap tak bersuara, hanya meletakkan kaleng birnya dan memejamkan mata.

Ruangan itu tiba-tiba saja larut dalam keheningan yang membius. Langkah detik sang waktu pun terdengar jelas dan semakin mempertegas kesunyian. Saat itu juga aku merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu barusan. Aku pikir kalau aku telah melukai perasaannya. Bagaimanapun juga dia telah memintaku datang, bukan sahabat-sahabatnya yang lain. Tentu ada sesuatu yang penting. Mungkin dia perlu waktu.

Baiklah, jika ini maumu. Aku akan menjadi patung pajangan. Maafkan aku. Bicaralah saat kau ingin. Aku akan tetap disini dan mendengarkan.”, kataku lalu ikut diam berpartisipasi dalam keheningan ruangan itu.

Aku duduk di lantai, di seberangnya, sambil menyandarkan diri di lemari televisi. Lima belas menit berlalu sudah dan kakiku mulai kesemutan. Sementara dia, kulihat masih tak bergeming. Mungkin dia tertidur. Sesaat kemudian, aku yang berencana bangkit untuk merenggangkan otot-otot kakiku tiba-tiba dikagetkan oleh suaranya.

Maaf. Tapi hidup ini, aku tak tahan lagi.”, hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya diam lagi. Kulihat ada bulir air mata yang mulai terbentuk di ujung matanya.

Ada banyak cara untuk mati, kau tahu? Tapi sangat tidak keren jika kau memilih untuk mempraktekkan cara-cara itu. Sebenarnya, ketika kau tersungkur lemah akibat dihempas oleh sisi gelap kehidupan, bukan mati yang harus kau pikirkan. Lagipula ketika seseorang benar-benar hampir mati, percayalah ia cenderung merasa takut. Kenapa kau tak berusaha untuk bangkit? Sulit memang. Tapi kau hanya perlu mencoba dan usahamu takkan sia-sia. Kau tahu, dengan cara bertahan dan menerima kenyataan yang menimpamu, itu saja, akan mengangkat harga dirimu, menjadikanmu pribadi yang mempesona.”, ulasku panjang lebar.

Aku tak ingin menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya. Semua orang punya masalah. Aku juga punya. Aku yakin dia akan menceritakannya sendiri bila dia mau. Yang paling penting saat ini adalah menghiburnya, menjauhkannya dari pikiran jelek itu. Aku berusaha. Sekarang aku tahu, alasannya memintaku datang adalah untuk menghentikannya berbuat bodoh. Jika dia benar-benar ingin mati, dia tidak perlu memberitahu siapa-siapa. Aku tahu dia merasa takut juga. Siapa yang tidak?

Dia menangis. Air mata menggenangi wajahnya. Isak tangisnya menciptakan sebuah simfoni dan meskipun berirama sendu, kini mengalir kembali nafas di dalam ruangan ini. Aku biarkan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal-bantal sofa. Sekarang aku yakin, dia tak akan melakukan apapun. Dia akan baik-baik saja. Aku terus berada disana, mengawasinya, hingga tangisannya terhenti dan dia tertidur.

*****

Tahukah kau? Ketika kau bersedih, jangan pernah kau tahan dalam hati, menangislah. Itu akan meringankan bebanmu. Temukanlah sahabat sejatimu! Dan ketika dunia berpaling darimu, berbagilah dengannya. Carilah dia, aku percaya dia tak akan mengecewakanmu. Jangan sia-siakan hidup ini! Badai pasti berlalu.

Untuk sahabat-sahabatku. Peace!

2010-08-25,
Stef

My Cuppa Coffee

A Cup of Cappuccino

A Cup of Cappuccino

Me: “Once upon a time…?”;
Me: “Oh, No!”;
Me: “Okay, Hmm… Then how should I start the story?”;

There’s a time that I need to be alone.

Me: “Stop! Stop! Stop!”;
Me: “Need to be alone? Really?”;
Me: “I witness that most of your lifetime, you spent it all alone.”;
Me: “Don’t you?”;
Me: “Well, don’t interrupt me please! Okay?”;
Me: “Peace!”;

Now I am sitting alone and waiting for my Cuppa Coffee, A cup of Cappuccino. Just wonder what to do. I’m just looking around and wow it’s pretty crowd. Few minutes later, finally, here comes my Cappuccino. Without waiting any longer, I’m taking a good, long swig and I lost myself in the moment. I guzzled down half of the container at once. The lightly flavored with just a hint of coffee, I love it.

And suddenly, I smile while taking a sip of it. This is just like a taste of my life, bittersweet, that’s it. And I realize that life is actually simple as it is. The way we think determine everything and mostly makes our life complicated with wishes, disappointment, uncertainty, dissatisfaction, annoyance and many others. At this moment, I’ve calmed down and I remember what you said to me couple days ago: “Take it easy, Live life happily”. Well, I’m trying.

I let this blended drink pacifies my mind, and somehow I see many wonderful things that once ever happened in my life. I present myself a big and a nice smile. This way I’m gonna end this note. I just wish that I could stay forever in this state when I could clearly see that when things seem to be tough, we may just need to resolve.

Thanks to this espresso blend and to you, the one who inspire me.

“For tomorrow I never know; for yesterday I can’t turn back; only present, the only option; this is where I should live.” – Me.

2009-12-08,
Stef